Kukuruyuukkkkkk!!!!!! Betook betook betook!!!!!!
Pagi yang cerah, pagi yang indah, dan pagi yang meyambut kita dari gelapnya malam!
Karena kami sangat capek, kami bangun kesiangan. Namun tak apalah, mumpung gak di rumah, jadi gak ada yang marahin, hehehe!!! Huh, dingin dingin dingin buanget!!!!!! Elfrida kedinginan karena Elfrida gak kebagian SB saat bobok. Biasa lah beginilah nasib kalau jadi orang yang trimanan, hehehe.
Menu pagi itu adalah oseng-oseng kentang yang dicampur sama Kembang Onclang. Dan kokinya adalah Elfrida dan mbak Enik. Awalnya Elfrida pesimis, kerena Elfrida belum pernah masak Kembang Onclang, namun ternyata lumayan enak juga. Setelah makan, kamipun mandi secara bergantian. Waduh waduh waduh!!!! Airnya dingin banget tau!! Namun seger juga, coz jarang-jarang mandi pake air sedingin itu. Setelah mandi dan melindungi wajah beserta kaki dan tangan dengan ramuan yang Elfrida bawa, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan ke Goa Jepang. Tapi sebelumnya, kami sempat foto-foto.
Di dalam Goa Jepang yang gelap gulita, terdapat dua pasang sejoli yang saling bergandengan tangan, hehehe. Pasti yang pada muncak kemarin sudah tahu siapa yang mesra banget di Goa Jepang, karena ini masalah intern jadi Elfrida gak akan menyebarluaskan. Hehehe. Memang di Goa Jepang sangat mencekam banget. Kami hampir tidak bisa melihat apapun yang ada di sekeliling kami tanpa cahaya senter. Dan parahnya lagi, Mas Agus malah ngomong soal hantu di dalam goa, padahal memang menurut mitos, Goa Jepang tergolong angker. Dengan rasa dag dig dug, akhirnya kami menapakan kaki setapak demi setapak, dan trenggggggg!!!!!!!!!!!!! Sampailah kami ke pintu keluar goa. Sebelum keluar, kami sempat foto-foto sebagai kenang-kenangan.
Perjalanan menuju puncak pun kami mulai sekitar pukul 10.15 WIB. Lagi-lagi mata kami disejukkan oleh pemandangan perkebunan teh, yang sangat indah banget, dan kami sempet foto-foto dengan latar belakang di sekitar kebun teh. Namun, cuaca saai itu tergolong panas, jadi sebentar-sebentar kami berhenti untuk istirahat dan makan-makan. Maklum lah, muncak kali ini merupakan muncak yang terspesial daripada muncak di Termulus sama Argo Piloso kemarin. Bayangin aja, bekal logistic kami sangat melimpah ruah, bahkan sampai muntah-muntah. Sehingga wong Elfrida sering lapar and supaya kuat sampai di puncak, Elfrida makan and makan terus, hehehe.
Di tengah perjalanan, Elfrida sempet ditelepon sama my honey, yang tentu saja menanyakan gimana keadaannya. Tapi, memang dasar nasib yang kurang beruntung, sinyalnya putus-putus. Bahkan IM3 pun gak ada sinyal sama sekali. Waduh waduh waduh, bisa kacau nech!! Tapi untung saja ada temen Elfrida yaitu mbak Evi yang make Telkomsel, jadi akhirnya honey ku telponnya di no nya temenku,hehehe. Thanks a lot’s Sis.
Kami hampir sampai puncak, yaitu di puncak S dan M, di sana Elfrida dan temen-temen wisata kuliner dengan menu jeruk, apel, susu, madu, dan Oky Jelly Drink. Wah gak kayak muncak oii!! Malah seperti piknik saja. Wah rasanya sueger buanget, setelah wisata kuliner Elfrida dan temen2 melanjutkan perjalanan menuju ke puncak yang sebenarnya. Waduh waduh waduh, jalannya batu-batuan semua, kalo nggak hati2, bisa2 malah masuk ke jurang. Tapi pemandangnnya itu lho yang bikin gemes, soalnya so sweat buanget deh. Akhirnya dengan sisa tenaga yang masih menempel di tubuh Elfrida, sampai juga di puncak. Kesan pertama saat sampai ke puncak adalah seneng dan kecewa. Senengnya karena akhirnya Elfrida bisa sampai juga di puncak Ungaran yang selama ini Elfrida impikan dan kecewanya saat Elfrida sampai di puncak, banyak tangan2 jahil manusia yang mencorat-coret bangunan tugu yang ada di puncak. Sungguh ironi sekali. Bayangkan mereka yang selama ini mengaku anak PA (Pecinta Alam ) eh bukannya menjadi anak PA yang sesungguhnya malah menjadi anak PA (Perusak Alam). Mungkin tujuan mereka ialah membuat kenangan sekaligus tanda tangan yang menunjukkan mereka maupun organisasi mereka sudah pernah menaklukkan Gunung Ungaran. Namun apakah dengan seperti itu mereka akan di puji orang laen? Jika mereka menganggap semua itu adalah seni, justru hal2 seperti itu yang membuat seni itu hilang. Jujur Elfrida kecewa banget saat itu. Setelah sampai di Puncak Ungaran, Elfrida langsung masuk tenda yang udah disispkan oleh temen2 Elfrida yang sudah sampai duluan. Maklumlah nafas Elfrid masih ngos2an. Dan setelah wisata kuliner dengan roti dan susu, lalu ajang pencarian foto model pun dimulai, alias foto2 maksudnya. Hehehe!!! Lalu dengan kamera seadanya yang dari HP Nokia 7610 tercintaku, yang Cuma 1 megapixel dan memori 128 MB yang limit, akhirnya kami mulai deh jepret sana jepret sini, dan Elfrida terpaksa mengorbankan MP3 kesayangan Elfrida buat dihapus, karena memori yang limit tadi. Maklum lah adanya cuma kamera itu doank, itupun batrainya hampir habis alias kedip kedip. Dan untungnya juga ada temen Elfrida yang seri batrainya sama, tapi wong namanya di puncak gunung, ya pasti dingin lah, sehingga mengakibatkan batrai nya ngedrop. Kalo gak salah sudah menghabiskan batrai 2 cz Elfrida bawa cadangan batrai, namun maklum lah. Namanya juga batrai palsu alias gak asli, jadi ya sama aja boong. Hehehe. Setelan puas mengambil gambar, akhirnya pet juga hp nya alias habis batrainya. Namun masih ada 1 batrai yang bisa digunakan. Yaitu batrainya mbak Enik.
Jam 3 kami memutuskan untuk turun, karena mengingat persediaan air yang kurang memenuhi syarat, sehingga kami terpaksa tidak bisa menginap di puncak. Kami turun bukan melalui jalur pendakian yang tadi kami lalui, melainkan mencari jalan lain yang menuju Candi Gedung Sanga, dan itung2 juga kami bisa refreshing sekaligus liburan. Namun jalur ini ternyata labih menantang, karena medannya berat banget. Tapi untungnya kami lewat jalur ini saat turun, jadi bukannya menantang malah mengasyikan. Hehehe!!! Namun tak jarang pula ada adegan2 yang lucu2, hehehe. Salah satu temen Elfrida yaitu mbak Evi tercinta, kakinya mengalami cidera, karena mungkin gak tahan dengan perubahan cuaca. Untung aja ada Counterpine yang masih Elfrida bawa, walaupun tinggal dikit. Tapi itung2 masih dapat membantu mengurangi rasa sakit yang mbak Evi derita. Walaupun jika efek dari obat itu hilang mbak Evi masih mersakan kesakitan. Elfrida kasihan banget ma mbak Evi, jadi kami menunggu dia, karena dia berjalan dengan tergopoh2 karena menahan rasa sakit. Karena jalan yang sangat licin, tak jarang juga Elfrida terpeleset. Sehingga, hal itu mengakibatkan sandal Elfrida hampir rusak, alias pedhot kata orang Jawa. Langsung aja Elfrida gak berani pakai, karena takut dimarahin ma ibuk. Coz sandal itu baru aja dibelikan, and Elfrida takut kalo putus beneran. Makanne Elfrida memutuskan untuk gak pake sandal alias nyeker kata orang Jawa. Itung2 terapi kesehatan kayak yang ada di stadion Joyokusumo Pati itu lho. Awalnya sech nyaman2 aja, tapi kok lama kelamaan sakit juga kaki Elfrida, padahal dulu waktu muncak di Termulus yang merupakan salah satu puncak Pegunungan Muria, Elfrida kuat walaupun gak pake sandal. Mungkin medannya yang beda, jadi mempengaruhi deh. Akhirnya dapat juga pinjeman sendal dari temen Elfrida yang namanya Pras. Waduh Puji Tuhan banget. Itung2 ngurangi lecet, hehehe, walaupun sebenernya udah terlanjur lecet2 sech. Maklum lah namanya juga sandal pinjeman, jadi ya kegedean. Sehingga mengakibatkan Elfrida harus hati2 makenya, maklum lah Elfrida juga takut kalo putus, coz ini juga sandal baru, trus sandal pemberian orang lagi. Waduh2 saat itu Elfrida beban mental banget. Sebelum kami sampai hutan Pinus, yang rencananya mau dipakai buat mendirikan tenda, tepatnya di pertengahan perjalanan. Ada suara longlongan anjing, guk guk guk guk guukkkk!!!!!!!! Spontan saja Elfrida beserta temen2 cewek Elfrida langsung lari lagi ke atas, karena takut digigit. Karena posisi saat itu Pras berada paling depan, kemudian 3 anak cewek termasuk Elfrida, lalu cool leader ( mas Agus ) dan Pak Jo ( mas Waluyo) berada di belakang kami. Dan saat itu si Pras langsung diem aja hehehe. Namun Elfrida juga gak tau alasannya kenapa dia kok diem, pa takut, pa salah satu cara menakuti anjing, Elfrida gak tau apa tujuannya. Namun Puji Tuhan, akhirnya anjing2 itu pada lari sendiri. Kami gak tahu itu karena apa. Kalo dilihat katanya temen Elfrida sech anjingnya seperti anjing terawat, tapi kalo dipikir2, jauh banget posisi anjing tadi dengan pemukiman penduduk. Setelah kejadian tadi, kami langsung hati2 dalam melanjutkan perjalanan. Namun tak jarang pula ada ranjau yang dibuat oleh manusia. Uh dasar manusia2 tidak bertanggung jawab! Masak buang hajat di tengah jalan, tidak dikubur lagi, cpdh!!!
Kami pun hampir sampai, dan saat itu temen kami Rulianto yang menuju puncak sendirian telah kembali. Kami pun melanjutkan perjalanan bersama2. Akhirnya sampai juga di hutan Pinus. Kami sampai di hutan Pinus sekitar pukul 18.00 WIB. Akhirnya kami pun segera mendirikan tenda. Selama temen2 sibuk mendirikan tenda, Elfrida mbak Enik dan Mas Agus sibuk masak buat makan malam. Namun kali ini, mas Agus tidak campur tangan labih jauh, karena kali ini khusus cewek yang masak, kecuali masak nasi, hehehe. Maklum lah Elfrida gak bisa masak nasi.
Akhirnya jadilah santapan makan malam dengan menu, oseng2 kentang ma telor dadar ma kentang goreng.
Karena kami sangat capek sekali, akhirnya kami tidur. Namun sebelum tidur kami sempet buat api unggun dari sampah2 yang ada.