Feeds:
Tulisan
Komentar

Raimuna Daerah 2009

uh, udah lama buanget pengen posting soal RAIDA kemarin, tapi file nya malah hilang. hehehheheeh jadi ya baru sempet deh.

Raimuna Daerah adalah sebuah perkemahan golongan penegak pandega yang diadakan di tingkatan Daerah/ Propinsi.

Saat mau berangkatsempet bingung juga sih awalnya, soalnya El ni mabuk kalo naik bus. Jadi malu nih, heheheheheheh. Namun, karena tugas sebagai  Pinkon (Pimpinan Kontingen) Putri yang harus El emban, jadi El harus berangkat. Wow, sesampai di Kantor Kwarcab Pati, El agak telat, soalnya El baru pulang kuliah. Gak mungkin lah gak pulang, soalnya motornya harus di taruh rumah dulu. Tapi Puji Tuhan El gak ditinggal kok. hehehehe

Perjalanan pun di mulai. Dengan menggunakan bus PEMDA PATI yang cuma berkapasitas 21 orang, kami pun gelar matras. Soalnya yang berangkat 28 orang, termasuk peserta, pinkon dan DKC. Yah, tapi apa boleh buat, soalnya kita gak boleh menggunakan BUS yang besar, dikarenakan jalan yang dilalui terlalu sempit.  Setidaknya itulah keputusan saat temu pinkon.

Perjalanan malam yang dingin, sangat membuat El agak neg, soalnya ada salah satu peserta yang bawa bakso. walah walah walah, jelas pengen muntah to ya, soalnya bus nya kan AC. hik hik hik. Akhirnya sampailah di pom bensin, El langsung aja gak tahan and, bla bla bla. lega buuu. heheheheheh

Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya sampailah di Buper Desa Widarapayung, Kec. Binangun, Kab. Cilacap. Tapi sebelumnya sempet muter2 selama 3 jam, gara-gara kesasar. Maklum lah, panitia kurang memperhatikan jalur masuk ke area perkemahan. Soalnya banyak juga kontingen lain yang kesasar juga.

Awal-awal kemah di sana, pengen buanget pulang karena airnya berkaporit, sampai tercium juga baunya dan gak bisa dibuat masak. Namun, akhirnya jadi betah juga, karena tiap hari bisa ke pantai buat main-main air. Kegiatan sangat padat. Jadi, tak jarang deh, jadi juru masak, karena yang korve alias yang jaga tenda cuma 1 dari peserta, jadi ya kasihan dunk kalo gak tak bantu.

El disana malah jadi kayak ibu pengasuh, soalnya banyak banget persoalan yang terjadi. Dari yang kecil sampai yang besar. Yah, akhirnya El ngerasain juga rasanya momong (mengasuh) peserta sebanyak 10 orang, putri semua lagi. hehehehheeh. Padahal di rumah El gak bisa kayak gitu.

Jujur, dengan adanya kegiatan ini El, makin bisa mengerti, tentang semua seluk beluk kehidupan. Kita juga harus mandiri, ga boleh selalu menggantungkan ortu.

Saat malam Cakra Adhi Birawa itulah yang selalu membuat hati El tersentuh, dimana kita harus berpisah dengan teman2 yang selama ini bersama kita selama 1 minggu kegiatan. Namun, untung ada HP, Facebook, dll. Jadi masih bisa kontek kontekan.

Saat pulang, kami sempat turun di pom bensin daerah Wonosobo. Wah, dari situ terlihat Gunung Sumbing dan Sindoro yang sangat gagah perkasa. Pengen banget El naik kesana, tapi apa daya, kemarin gagal mubcak dikarenakan kondisi cuaca yang kurang memungkinkan. Tapi El mau kesana lagi suatu saat nanti. Uh, jadi sedih nih.

Saat itu, El sempet pula foto-foto sama peserta, and good bye Cilacap come back to Pati

Dengan peserta Raida Kontingen Pati

Dengan peserta Raida Kontingen Pati

ow adek2 qu

ow adek2 qu

awas ularrrrrr

awas ularrrrrr

Image(558)

inilah fotonya, tapi pelanginya kurang jelas kalo di foto

inilah fotonya, tapi pelanginya kurang jelas kalo di foto

ni air terjunnya kalo dilihat dari jauh

ni air terjunnya kalo dilihat dari jauh

Ehm, ehm ehm…….
Lama juga Elfrida gak posting blog, rasanya tangan ini udah gatel buanget untuk menuangkan cerita-cerita El. Maklum lah, memang akhir-akhir ini El disibukkan dengan yang namannya laporan Kerja Praktek, yang otomatis menyita banyak waktu El. Namun Puji Tuhan, kemarin El mendapatkan semangat buat posting lagi dari temen El yang sengaja memberikan award buat El supaya semangat lagi, thanks ya mas. Tapi sayangnya El belum tahu cara forward nya ke temen-temen, maaf ya mas.

Ok, come back to the topic. Sepletuk, ehmmmmm, kata ANEH adalah kata yang El keluarkan saat mendengar kata itu. Maklum lah, El sama sekali tidak pernah mendengar kata itu selama hidup El. Namun, dengan mendengar kata itu El akhirnya bisa memulai petualangan El yang pastinya seru buanget.

Sepletuk adalah sebuah Air Terjun yang berada di Desa Njrahi Kecamatan Gunung Wungkal, Kabupaten Pati. Memang tempatnya sangat terpencil namun sangat menantang medannya. Cocok dengan orang-orang yang suka petualangan alam.

El berangkat dari rumah kurang lebih jam 08.30, pada awalnya niat El dan temen gereja El, Cuma mau survey lokasi buat acara wisata alam yang akan diadakan 20 Juli 2009 nanti. Ini merupakan survey kedua setelah survey yang pertama di Air Terjun Grenjengan Sewu yang juga masih sekomplek dengan Air Terjun Sepletuk. Namun El tidak bisa menceritakan karena El pada waktu itu tidak bisa ikut. Setelah perjalanan selama 1 jam dengan menggunakan motor, akhirnya kami sampai juga di rumah teman kami yang akan mengantar kami menuju air terjun itu, maklum lah kami belum pernah kesana.

Setelah menunggu sebentar, karena kebetulan teman kami masih mengajar, kami langsung pergi ke tempat yang dituju. Namun sebelum pergi, awalnya kami ragu, mau naik motor apa jalan kaki, karena katanya medannya agak ekstrim. Karena katanya jauh, maklum lah teman El saat itu mal es buat jalan jauh, maka kami memutuskan untuk naik motor, yang saat itu El boncengan sama kakak sepupu El.

Weleh weleh weleh…….!!! Adalah kata pertama yang El ucapkan saat melihat jalan yang akan kamu lalui. Lebar jalan 1 m, dengan kanan jalan jurang dan kiri jalan tebing, jalannya masih tanah, dan belum aspal. Masak jalan kayak gitu mau dilewati pake motor? Namun karena sudah terlanjur, maka kami pun nekad naik motor. Temen El yang jadi guide nya sih tenang-tenang saja, soalnya dia kan sudah terbiasa. Lha kami yang belum terbiasa, jelas dag dig dug duer dunk. Tapi jujur saat itu El sudah pasrah sama Tuhan.

Sesuatu yang tidak diinginkan pun terjadi, El dan kakak sepupu El, jatuh dari motor dan masuk ke jurang. Untung aja jatuhnya gak sampai ke dasar jurang, jadi masih bias naik lagi, dan untung juga motornya gak ikut jatuh juga. Bisa bayangin kan, kalo motornya jatuh ke jurang? Puji Tuhan ternyata kami masih selamat.

Singkat cerita, kami pun sampai di pinggir sawah dan motor pun kami tinggal disana tanpa ada yang mengawasi. Hehehehehehe…. Ternyata perjalanan tadi sekitar 30 menit walaupun udah naik motor. Dan itupun belum sampai di tempat tujuan, Wah wah wah, firasat El agak gimana gitu, dan ternyata terbukti, heheheheehe, perjalanan selanjutnya yang dengan berjalan kaki membutuhkan waktu 1 jam, dan jangan tanya medannya, wih wih wih wih, muncak buangetttttttsssssss!! Mau gak mau ya harus mau buat melanjutkan perjalanan, walaupun El gak bawa persiapan apa-apa, alias cuma air putih sama nasi rames. El aja pake celana jeans dan yang pensil lagi, padahal medannya harus menyusuri sungai, karena celananya gak bias di lipat, jadi ya basah deh. Kalo tau gtu mending dari rumah El pake celana pendek aja. Tapi ya gak pa pa lah, itung-itung pengalaman. Dikanan kiri El, banyak buanget tanaman-tanaman yang biasa El temuin di puncak. Makannya El seneng buanget. Itung-itung mengobati rindu El sama muncak. Soallnya kemarin mau muncak tuh gagal terus.

Akhirnya, sampai juga di tempat tujuan, kesan pertama adalah SO SWEATTTTTTT………………….., kenapa???? Soalnya di tengah-tengah air terjunnya ada pelanginya. Jujur El seneng buanget, soalnya El selama ini belum pernah manikmati pemandangan seperti itu. Akhirnya kumat lagi penyakit El, yaitu jeprat jepret buat jadi foto model sementara. Hehehehehe. Setelah itu, rasanya luaper buanget. Maklum lah, belum sarapan, hehehehe. Setelah menyantap nasi ramesnya, El main air sama foto-foto lagi. Setelah puas, walaupun El belum puas, kami pun pulang dengan sejuta kenangan indah at The Sepletuk Water Fall.

Be Nextlevel

Nextlevel……………..  Apa sih arti dari pernyataan yang El tulis menjadi judul postingan ini? Mari kita telusuri bersama.

Kita hanyalah manusia yang menjalani hidup yang merupakan sebuah anugrah dari Tuhan. Kita tahu bahwa kita ini mendapatkan semua anugrah itu secara gratis dari Tuhan. Banyak sekali anugrah yang kita miliki, namun jarang pula kita mensyukurinya sebagai anugrah yang berasal dari Tuhan.

Saat kita bangun tidur, kita pasti akan membuka mata, menghirup udara yang nan sejuk, nah, itulah salah satu anugrah yang jarang sekali kita syukuri. Bayangkan saja, kalo kita tidak bisa membuka mata kita, berapa biaya yang kita habiskan untuk membuat mata kita kembali normal? belum lagi O2 yang telah kita hirup dan nikmati dari kita lahir sampai saat ini, bisa bayangkan berapa biaya yang kita keluarkan jika kita tidak mendapat anugrah itu?

Namun, terkadang Tuhan memberi kita cobaan yang menurut kita amat sangat berat dan menyusahkan, sehingga manusia dengan mudahnya melupakan dan tidak mau mensyukuri anugrah itu. Wow, itulah manusia, dan jujur, El juga kadang seperti itu, namun kita juga harus belajar menghargai apa maunya Tuhan, dan bukan selalu menuruti apa maunya kita yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan.

Tak jarang pula kita selalu menyalahkan Tuhan, marah sama Tuhan, bahkan membenci Tuhan. Karena kita merasa Tuhan memberikan suatu permasalahan dan beban hidup yang sangat berat buat kita. Itulah proses hidup, yang merupakan sebuah ujian yang harus kita selesaikan dengan tuntas alias LULUS.

Setelah kita bisa lulus dalam cobaan yang telah diberikan oleh Tuhan, maka kita akan NEXTLEVEL dalam iman kita. Ingat teman! Tuhan gak akan memberikan ujian yang melampaui kapasitas kita, sehingga jika kita berpegang teguh dan percaya kepada Dia, maka kita pasti akan NEXTLEVEL sesuai sama keinginan Tuhan dalam kehidupan kita. Semakin kita sering mendapatkan pencobaan, maka akan semakin kita menjadi nextlevel.  Dan akan semakin kita lebih dekat dengan Dia.Be Nextlevel

I Need You My Father

Malam ini, aku capek buanget, pengen rasanya melepaskan semua masalah, kepenatan, persoalan, sakit penyakit, yang selama beberapa minggu ini menghantui aku. Awalnya, aku bisa menyimpan dan menyimpan semua ini sendiri, karena aku yakin Tuhan gak akan pernah meninggalkan aku. Akan tetapi, setelah membaca SMS tadi pagi, aku langsung drop, langsung gak tahu harus berbuat apa???? Apakah ini merupakan kelanjutan dari cobaanMu ataukah ini akibat dari kesalahanku di masa lalu???

Pengen banget nangis, pengen banget menjerit, tapi apakah semua itu akan menyelesaikan semua ini?? Bapa, aku sangat tertekan, aku seperti di intimidasi, aku bingung.

Bapa, aku tahu tanganMu selalu memegangku dan tak akan pernah meninggalkanku. Namun kok q pengen banget nangis ya Bapa?? pengen buanget q akhiri semua ini. Namun, aku gak tahu Bapa, aku gak mengerti, aku seperti orang yang sudah kehabisan kekuatan dan sama sekali tak berdaya saat ini.

Bapa, aku hanya bisa menulis dan menulis di blog ini untuk menghilangkan semua rasa sedihku. Namun, kau tahu ini cuma sementara Bapa dan hanya sasaat.

Bapa, kuatkanlah aku, kuatkanlah anakMu ini yang sedang rapuh. Aku gak tahu, apakah dengan keputusanku ini aku akan dibenci oleh seseorang, tapi di sisi lain, aku gak ada jalan keluar Tuhan. Please, help me. Hanya Engkau yang dapat membantuku saat ini. Dan Aku yakin, walaupun nantinya akan ada sesuatu yang buruk, namun aku juga yakin akan ada pelangi di balik semuanya itu. Amin

Petualangan ke Puncak Sapto

Kemarin tanggal 25-26 Januari 2009, lagi-lagi kami team BECAK yang super aneh, wagu, nyleneh, dlllllllllllll melakukan petualangan kami yang ke-3 ke puncak Sapto di Pegungngan Muria (Jateng). Sebenarnya sebelum kami berangkat ke Sapto kami sudah melakukan petualangan kami yang ke-2. Namun karena tidak dan amat sangat tidak memuaskan El males postingnya, coz pemandangannya amat sangat mengecewakan :sad: . Bayangin aja masak air terjun warnanya coklat??? Bikin jengkel aja. Wew kok jadi bahas yang lain :lol:

Kembali ke topik semula ehm ehm ehm

Kami berangkat dari Pati jam 11.30 WIB, itu pun kami mampir dulu ke pasar Puri buat belanja logistic. Maklum lah, namanya juga petualangan buat fresh in pikiran, jadi ya harus makan2 dunk. Hehehee

Akhirnya setelah 2 jam 30 menit, kami sampai juga di tempat tujuan yaitu Desa Rahtawu. Namun El mau cerita dikit neh, sebelum kami sampai, di sepanjang jalan sekitar Desa Rahtawu buanyak buanget pasangan muda mudi yang lagi menikmati pemandangan. Namun karena El anak e usil buanget jadi tiap ada pasangan El suit suit tin(walaupun gak bisa bersiul :lol: ) Sampai sampai temen El yang namanya Pras yang kebetulan pas boncengan ma El malu gara2 ulah El. Namun yah mau gimana lagi namanya juga ngusilin orang, enak banget hehehehehe.

Kami pun memulai perjalanan kami dengan doa, o iya yang ikut muncak kemarin El sendiri, Ruli, Nang (Pras), Sai (Saifudin), dek Pendy (Fendy), Mbak Vera, Mas Mardis (Mardiyanto). Walaupun cuma 7 orang, namun tetap gak mengurangi rasa bahagia kami, karena semboyan kami semakin sedikit yang ikut, maka semakin banyak makanan yang tersedia :lol:

Setelah doa kami memulai petualangan dengan diiringi rintik-rintik hujan yang membasahi bumi. Di dalam perjalanan tak lupa kami berfoto ria dengan background pemandangan yang so sweat buanget. Dan kami juga sempat melewati aliran air yang jernih plus sueger buanget. Maklum lah namanya juga di pegunungan:lol: . Karena cacing di perut kami sudah minta untuk di kasih makan, akhirnya kami berhenti untuk mengisi perut dengan nasi+kering tempe yang El bawa dari rumah. Maklum lah emang dari rumah ibuk ngomong kalo pasti di perjalanan pada kelaparan, coz gak sempet masak. Jadi ya di bawain 2 bungkus nasi dengan porsi super duper jumbo. Jadi 1 bungkus bisa dimakan 3 orang dewasa. Walaupun dengan lauk seadanya, namun makan di tengah2 pegunungan plus ditemani temen2 jadi terasa menyenangkan.

Perjalanan pun kami lanjutkan. Akhirnya dengan sisa2 tenaga yang El miliki, kami pun sampai di Puncak Sapto. Namun kesan pertama yang El dapet setelah sampai puncak adalah ANGKER :devil: :evil:

Tapi jujur dech, di puncak kali ini El ga bisa menyalurkan hobi El, yaitu singing. Mana bisa coba, ngomong keras2 aja ga boleh coz deket sama makam yang dikeramatkan. Jadi puzink dech.

Namun, El dapat mengobati rasa kecewa El dengan menyalurkan hobi El yang lain yaitu memasak (selain masak nasi). Wah langsung aja El dan mbak Vera beraksi heheehe. Eng ing eng akhirnya santapan makan malam dengan telor dadar, oseng2 kol, bistik daging pun siap di santap. Nyam nyam nyam nyam.

Karena malam gak ada kegiatan akhirnya kami sepakat untuk membuat sate yang berasal dari tempe dan bistik daging yang kami bawa. Walaupun dengan susah payah Nang membuat api, namun akhirnya jadilah sate yang enak dan kami makan. Wah makan2 trussssssssss!!!!!!!!!!!!!

Malamnya kami gak bisa tidur, karena banyak banget tikus2 yang mengganggu liburan kami. El juga heran, usil banget tuh tikus. Namun El masih bisa selamat dari amukan para tikus, cos El tidur di dalam tenda. Jadi aman dech :lol:

Saat jam 2 malem Nang bangunin q ma mbak Vera, coz katanya kabut e udah hilang and bisa melihat pemandangan lampu2 kota yang wahhhhhh indah banget, sampe gak bisa diungkapkan dengan kata2. Emang bener kok pemandanganne so sweat banget. Akhirnya setelah puas melihat pemandangan, kami pun melanjutkan mimpi indah kami.

Wah pagi pun datang namun gak disertai kokok ayam jago hehehe :lol: ya iya lah namanya juga di puncak gunung, ya gak ada ayam jago to. Cpdh

Kami pun akhirnya wisata kuliner lagi dengan 2 kaleng besar sarden ABC, 6 butir telor ayam yang udah di dadar, teri nasi yang di goreng, sayur, 5 buah mi instan rebus. Wah pesta lagi pesta lagi. Setelah mengemasi barang2 kami pun turun. Namun sebelum turun kami sempat melihat ada 2 orang yang bertapa di puncak sapto.

Wah perjalanan turun pun sangat dan sangat mengasyikan, namun El ga bisa lanjutin coz udah nguantuk buanget.

Tapi maaf postingan nya gak bisa tak kasih foto, coz ni posting e lewat hp. Jadi foto ne menyusul

GBU all :lol:

Mami Eva, itulah panggilan yang biasa kami pakai. Yah, kami adalah anak2 rohani beliau (mbak Kikin, mbak Kris, Arum, Mbak Eni, Hera, Tumini, Mbak Ovi dan Elfrida sendiri) karena mami pengen supaya kami lebih dekat dengan panggilan itu. Karena mami Eva di kampus adalah Dosen kami. Namun di luar kampus beliau adalah mami kami.

Kami sangat sayang banget sama mami, walaupun kadang2 mami suka cerewet ma kami, hehe. Namanya juga mami, yah dimana2 pasti seperti itu. Namun mami cerewet sama kami bukanlah tanpa alasan, melainkan supaya kami menjadi lebih baik.

Kemarin pada tanggal 28 Januari 2009, mami dipanggil Tuhan melalui sebuah kecelakaan yang sangat tragis. Waktu itu mami dan suaminya (Pak Samuel) pulang dari belanja di Kudus. Dan pada perjalanan pulang, terjadilah kecelakaan itu. Dan semuanya itu emang udah kehendak Tuhan.
Mami langsung meninggal dan suaminya mengalami patah tulang.

Yah, saat mengetahui hal itu, kami sangat kaget dan gak percaya sama sekali. Langsung sebagian dari kami berangkat ke RSU Kudus. Walaupun sudah malam. Coz sekitar jam 9 El baru berangkat dari Juwana. Yah, sampe di sana mami udah ada di dalam peti, dan kami gak diijinkan buat melihat langsung mami, coz takut e kami gak kuat kalo ngelihat langsung. Karena katanya kepala mami yang bagian rahang bawah bergeser ke samping. Sungguh sangat tragis sekali. Dan tak henti2 nya air mata kami langsung keluar.

Dulu waktu mami masih hidup, mami pernah bilang kalo mami ingin meninggal dalam keadaan utuh dan cantik. Namun ternyata Bapa berkehendak laen. Keinginan mami tidak terpenuhi.

Dulu saat El share ma mami, mami selalu ingetin supaya El memberikan waktu khusus buat doa kepada Tuhan. Namun El sering banget lupa akan kata2 mami. El sering banget lupa ambil waktu khusus untuk doa secara pribadi sama Tuhan.

Dan, mami juga pernah ngomong ma El, kalau El harus paksa diri El buat baca Alkitab. Karena waktu itu El pernah ngomong ma mami kalo El sering ketiduran saat baca Alkitab.
Namun, setelah mami gak ada lagi, nasehat demi nasehat yang selalu mami katakan ma El, selalu terngiang-ngiang.

Mami masih inget gak kalo mami pernah ngomong ma mbk Kikin, jika mami meninggal nanti, mami pengen di beri bunga serba pink? Kami ingat kata2 mami. Mi, keinginan mami sudah terkabul, coz kami sudah mencarikan mami bunga warna pink. Tapi maaf mi. Di Pati, sulit cari bunga warna pink yang dirangkai jadi salib dan rangkaian bunga. Jadi cuma dikit yang warna pink.

Hal yang paling membuat El ngerasa agak bersalah adalah, saat kemarin tepat nya hari Jum’at tgl 30 Januari 2009, saat kami ke Purwokerto. El kaget, waktu El mau memberikan rangkaian bunga berbentuk salib di dekat peti mami, di sana warna mayoritas bunga berwarna kuning dan putih. El sedih banget. Coz cuma sdikit yang warna pink. Padahal keinginan mami adalah, mami pengen ada banyak bunga serba pink.

Mi, El minta maaf mi. Coz El belum sempat bawakan bunga2 yang mau mami tanam di rumah baru mami di Runting. Maafin El ya mi, coz kemarin El belum sempet ke Pati, jadi El belum sempet ngasih bunga ke mami.
El tahu kalo mami pengen banget punya bunga, coz selama ini tanaman yang ada di asrama mami cuma daun2 saja.

El kangen banget ma mami, dan El cuma bisa memenuhi rasa kangen El melalui foto mami yang ada di hp El. Itulah foto terakhir mami yang El punya sebelum mami meninggal.

Selamat Jalan Mi, El gak akan melupakan mami, and selalu mengingat mami di hati El. Dan El yakin, sampai saat ini, El masih ngerasa kalo mami masih ada di dekat El, walaupun El gak bisa ngelihat mami.

Pilihan, hanya merupakan sebuah kata yang sangatlah biasa. Namun, sangat memiliki makna yang luar biasa. Sekali saja kita salah dalam mengambil sebuah pilihan, maka akan membawa dampak yang sangat besar untuk kehidupan kita nantinya.
Itulah hidup. Hidup adalah sebuah pilihan. Kenapa? Karena setiap hari, hidup kita dihadapkan dengan banyak pilihan. Mulai dari bangun tidur, kita sudah di hadang oleh pilihan untuk bangun atau tidak, untuk berbicara atau tidak, untuk sarapan atau tidak, dan masih banyak lagi pilihan2 yang harus kita hadapi setiap harinya.
Jika kita flashback, kita tahu bahwa dulu Adam dan Hawa sudah dihadapkan dengan sebuah pilihan, yaitu dengan memakan Buah Pengetahuan Baik dan Jahat atau tidak memakannya. Dan ternyata, mereka memilih untuk memakan buah itu.
Bisa saja Tuhan menghentikan mereka supaya tidak makan buah itu. Namun Tuhan membiarkan mereka menentukan pilihan mereka. Karena sejak awal Tuhan memang sudah memberikan kebebasan untuk memilih di dalam hidup kita.
Terkadang kita salah mengambil sebuah pilihan, sehingga malah membuat kita terjerumus akibat pilihan kita sendiri. Tuhan akan membiarkan kita jika kita salah memilih, karena sejak awal kita sudah diberi kebebasan untuk memilih oleh Tuhan. Namun, jika kita salah memilih, Tuhan tidak akan tinggal diam. Walaupun Tuhan membiarkan kita dengan pilihan kita yang salah. Namun Tuhan senantiasa selalu dan selalu mengingatkan kita akan pilihan yang benar. Supaya kita tidak salah memilih lagi.
Memang, sangat sulit kita mengetahui mana yang pilihan kita dan mana yang pilihan Tuhan. Namun jika kita sangat dekat dengan Tuhan, maka Tuhan akan menunjukkan sebuah pilihan yang benar kepada kita. Dan kita juga harus peka apa maunya Tuhan, atas pilihan hidup kita.
Jelou

Hari Yang Terindah

Ketika ku tak berdaya
Dan tak tahu harus kemana
Gelap jalan yang ada di depan mata
Seolah tak ada cahaya

Baru kini q mengerti
Mengapa semua terjadi
RancanganMu yang terbaik lebih indah

Itulah hal yang sangat indah dalam hidupku
Jelou

Kemarin, tepatnya tanggal 29-30 November, Elfrida dan temen2 kampus khususnya anak PMK Stimik Aki Pati, mengadaan Retreat di Vila Colo. Walaupun peserta cuma 18 orang, akan tetapi Elfrida ngedapetin sesuatu yang sangat membuat hidup El berubah.

Burung Rajawali, itulah hal yang El dapetin dari retreat. El pingin, El bisa seperti burung Rajawali.

Pertama, Burung Rajawali selalu terbang menerpa angin yang kencang, semakin kencang angin itu maka akan semakin kuat keinginan Rajawali untuk menerobos angin itu. Demikian juga kita, jka kita ingin seperti burung Rajawali, maka kita akan senantiasa menerobos masalah seberat apapun yang akan menerpa kita. Semakin besar masalah itu, maka akan semakin kuat keinginan kita untuk menghadapi masalah itu.

Kedua, Kita tahu bahwa sarang burung Rajawali terdiri dari beberapa lapisan, diantaranya pada lapisan terluar, adalah lapisan batu-batu, kemudian peda lapisan yang kedua adalah lapisan ranting-ranting, lalu lapisan terdalam adalah bulu-bulu yang sangat lembut. Si induk Rajawali akan mengajari anaknya terbang dengan cara melempar anaknya keluar dari sarang. Kita tahu, bahwa sarang Rajawali ada di tempat yang sangat tinggi. Maka, apabila si Anak Rajawali jatuh, maka tentu akan meninggal. Namun, itulah yang dilakukan si Induk. Dia akan melempar anaknya keluar sarang, maka dengan itu, si anak, akan berusaha sekuat tenaga untuk terbang. Akan tetapi, jika si anak belum mampu untk terbang, maka si induk akan menopang si anaknya lagi, sehingga tidak jatuh. Lalu jika sampai di atas, maka si induk akan melepaskan anak itu lagi, begitu seterusnya, sampai si anak benar-benar bisa terbang. Itulah Bapa kita yang di sorga, Dia selalu ada bersama kita. Memang Dia membiarkan kita jatuh, namun tidak akan pernah membiarkan kita sampai tergeletak.

ketiga, Si Induk sedikit demi sedikit, mulai menghilangkan kenyamanan- kenyamanan yang ada di dalam sarang rajawali. Pertama si induk akan mengambil lapisan bulu, dilanjutkan lapisan ranting, dan pada akhirnya hanya menyisakan lapisan batu. Dengan ini kita tahu, bahwa semakin iman kita tumbuh menjadi lebih dewasa, berarti bukan kenyamanan yang akan kita peroleh. Melainkan ketidaknyamanan yang akan kita dapatkan.

Itulah pelajaran yang sangat berharga yang sudah El dapatkan dari Retreat kemarin dan El juga mau membaginya buat temen2.

GOD BLESS U :lol:

Kukuruyuukkkkkk!!!!!! Betook betook betook!!!!!!
Pagi yang cerah, pagi yang indah, dan pagi yang meyambut kita dari gelapnya malam!
Karena kami sangat capek, kami bangun kesiangan. Namun tak apalah, mumpung gak di rumah, jadi gak ada yang marahin, hehehe!!! Huh, dingin dingin dingin buanget!!!!!! Elfrida kedinginan karena Elfrida gak kebagian SB saat bobok. Biasa lah beginilah nasib kalau jadi orang yang trimanan, hehehe.
Menu pagi itu adalah oseng-oseng kentang yang dicampur sama Kembang Onclang. Dan kokinya adalah Elfrida dan mbak Enik. Awalnya Elfrida pesimis, kerena Elfrida belum pernah masak Kembang Onclang, namun ternyata lumayan enak juga. Setelah makan, kamipun mandi secara bergantian. Waduh waduh waduh!!!! Airnya dingin banget tau!! Namun seger juga, coz jarang-jarang mandi pake air sedingin itu. Setelah mandi dan melindungi wajah beserta kaki dan tangan dengan ramuan yang Elfrida bawa, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan ke Goa Jepang. Tapi sebelumnya, kami sempat foto-foto.
Di dalam Goa Jepang yang gelap gulita, terdapat dua pasang sejoli yang saling bergandengan tangan, hehehe. Pasti yang pada muncak kemarin sudah tahu siapa yang mesra banget di Goa Jepang, karena ini masalah intern jadi Elfrida gak akan menyebarluaskan. Hehehe. Memang di Goa Jepang sangat mencekam banget. Kami hampir tidak bisa melihat apapun yang ada di sekeliling kami tanpa cahaya senter. Dan parahnya lagi, Mas Agus malah ngomong soal hantu di dalam goa, padahal memang menurut mitos, Goa Jepang tergolong angker. Dengan rasa dag dig dug, akhirnya kami menapakan kaki setapak demi setapak, dan trenggggggg!!!!!!!!!!!!! Sampailah kami ke pintu keluar goa. Sebelum keluar, kami sempat foto-foto sebagai kenang-kenangan.
Perjalanan menuju puncak pun kami mulai sekitar pukul 10.15 WIB. Lagi-lagi mata kami disejukkan oleh pemandangan perkebunan teh, yang sangat indah banget, dan kami sempet foto-foto dengan latar belakang di sekitar kebun teh. Namun, cuaca saai itu tergolong panas, jadi sebentar-sebentar kami berhenti untuk istirahat dan makan-makan. Maklum lah, muncak kali ini merupakan muncak yang terspesial daripada muncak di Termulus sama Argo Piloso kemarin. Bayangin aja, bekal logistic kami sangat melimpah ruah, bahkan sampai muntah-muntah. Sehingga wong Elfrida sering lapar and supaya kuat sampai di puncak, Elfrida makan and makan terus, hehehe.
Di tengah perjalanan, Elfrida sempet ditelepon sama my honey, yang tentu saja menanyakan gimana keadaannya. Tapi, memang dasar nasib yang kurang beruntung, sinyalnya putus-putus. Bahkan IM3 pun gak ada sinyal sama sekali. Waduh waduh waduh, bisa kacau nech!! Tapi untung saja ada temen Elfrida yaitu mbak Evi yang make Telkomsel, jadi akhirnya honey ku telponnya di no nya temenku,hehehe. Thanks a lot’s Sis.
Kami hampir sampai puncak, yaitu di puncak S dan M, di sana Elfrida dan temen-temen wisata kuliner dengan menu jeruk, apel, susu, madu, dan Oky Jelly Drink. Wah gak kayak muncak oii!! Malah seperti piknik saja. Wah rasanya sueger buanget, setelah wisata kuliner Elfrida dan temen2 melanjutkan perjalanan menuju ke puncak yang sebenarnya. Waduh waduh waduh, jalannya batu-batuan semua, kalo nggak hati2, bisa2 malah masuk ke jurang. Tapi pemandangnnya itu lho yang bikin gemes, soalnya so sweat buanget deh. Akhirnya dengan sisa tenaga yang masih menempel di tubuh Elfrida, sampai juga di puncak. Kesan pertama saat sampai ke puncak adalah seneng dan kecewa. Senengnya karena akhirnya Elfrida bisa sampai juga di puncak Ungaran yang selama ini Elfrida impikan dan kecewanya saat Elfrida sampai di puncak, banyak tangan2 jahil manusia yang mencorat-coret bangunan tugu yang ada di puncak. Sungguh ironi sekali. Bayangkan mereka yang selama ini mengaku anak PA (Pecinta Alam ) eh bukannya menjadi anak PA yang sesungguhnya malah menjadi anak PA (Perusak Alam). Mungkin tujuan mereka ialah membuat kenangan sekaligus tanda tangan yang menunjukkan mereka maupun organisasi mereka sudah pernah menaklukkan Gunung Ungaran. Namun apakah dengan seperti itu mereka akan di puji orang laen? Jika mereka menganggap semua itu adalah seni, justru hal2 seperti itu yang membuat seni itu hilang. Jujur Elfrida kecewa banget saat itu. Setelah sampai di Puncak Ungaran, Elfrida langsung masuk tenda yang udah disispkan oleh temen2 Elfrida yang sudah sampai duluan. Maklumlah nafas Elfrid masih ngos2an. Dan setelah wisata kuliner dengan roti dan susu, lalu ajang pencarian foto model pun dimulai, alias foto2 maksudnya. Hehehe!!! Lalu dengan kamera seadanya yang dari HP Nokia 7610 tercintaku, yang Cuma 1 megapixel dan memori 128 MB yang limit, akhirnya kami mulai deh jepret sana jepret sini, dan Elfrida terpaksa mengorbankan MP3 kesayangan Elfrida buat dihapus, karena memori yang limit tadi. Maklum lah adanya cuma kamera itu doank, itupun batrainya hampir habis alias kedip kedip. Dan untungnya juga ada temen Elfrida yang seri batrainya sama, tapi wong namanya di puncak gunung, ya pasti dingin lah, sehingga mengakibatkan batrai nya ngedrop. Kalo gak salah sudah menghabiskan batrai 2 cz Elfrida bawa cadangan batrai, namun maklum lah. Namanya juga batrai palsu alias gak asli, jadi ya sama aja boong. Hehehe. Setelan puas mengambil gambar, akhirnya pet juga hp nya alias habis batrainya. Namun masih ada 1 batrai yang bisa digunakan. Yaitu batrainya mbak Enik.
Jam 3 kami memutuskan untuk turun, karena mengingat persediaan air yang kurang memenuhi syarat, sehingga kami terpaksa tidak bisa menginap di puncak. Kami turun bukan melalui jalur pendakian yang tadi kami lalui, melainkan mencari jalan lain yang menuju Candi Gedung Sanga, dan itung2 juga kami bisa refreshing sekaligus liburan. Namun jalur ini ternyata labih menantang, karena medannya berat banget. Tapi untungnya kami lewat jalur ini saat turun, jadi bukannya menantang malah mengasyikan. Hehehe!!! Namun tak jarang pula ada adegan2 yang lucu2, hehehe. Salah satu temen Elfrida yaitu mbak Evi tercinta, kakinya mengalami cidera, karena mungkin gak tahan dengan perubahan cuaca. Untung aja ada Counterpine yang masih Elfrida bawa, walaupun tinggal dikit. Tapi itung2 masih dapat membantu mengurangi rasa sakit yang mbak Evi derita. Walaupun jika efek dari obat itu hilang mbak Evi masih mersakan kesakitan. Elfrida kasihan banget ma mbak Evi, jadi kami menunggu dia, karena dia berjalan dengan tergopoh2 karena menahan rasa sakit. Karena jalan yang sangat licin, tak jarang juga Elfrida terpeleset. Sehingga, hal itu mengakibatkan sandal Elfrida hampir rusak, alias pedhot kata orang Jawa. Langsung aja Elfrida gak berani pakai, karena takut dimarahin ma ibuk. Coz sandal itu baru aja dibelikan, and Elfrida takut kalo putus beneran. Makanne Elfrida memutuskan untuk gak pake sandal alias nyeker kata orang Jawa. Itung2 terapi kesehatan kayak yang ada di stadion Joyokusumo Pati itu lho. Awalnya sech nyaman2 aja, tapi kok lama kelamaan sakit juga kaki Elfrida, padahal dulu waktu muncak di Termulus yang merupakan salah satu puncak Pegunungan Muria, Elfrida kuat walaupun gak pake sandal. Mungkin medannya yang beda, jadi mempengaruhi deh. Akhirnya dapat juga pinjeman sendal dari temen Elfrida yang namanya Pras. Waduh Puji Tuhan banget. Itung2 ngurangi lecet, hehehe, walaupun sebenernya udah terlanjur lecet2 sech. Maklum lah namanya juga sandal pinjeman, jadi ya kegedean. Sehingga mengakibatkan Elfrida harus hati2 makenya, maklum lah Elfrida juga takut kalo putus, coz ini juga sandal baru, trus sandal pemberian orang lagi. Waduh2 saat itu Elfrida beban mental banget. Sebelum kami sampai hutan Pinus, yang rencananya mau dipakai buat mendirikan tenda, tepatnya di pertengahan perjalanan. Ada suara longlongan anjing, guk guk guk guk guukkkk!!!!!!!! Spontan saja Elfrida beserta temen2 cewek Elfrida langsung lari lagi ke atas, karena takut digigit. Karena posisi saat itu Pras berada paling depan, kemudian 3 anak cewek termasuk Elfrida, lalu cool leader ( mas Agus ) dan Pak Jo ( mas Waluyo) berada di belakang kami. Dan saat itu si Pras langsung diem aja hehehe. Namun Elfrida juga gak tau alasannya kenapa dia kok diem, pa takut, pa salah satu cara menakuti anjing, Elfrida gak tau apa tujuannya. Namun Puji Tuhan, akhirnya anjing2 itu pada lari sendiri. Kami gak tahu itu karena apa. Kalo dilihat katanya temen Elfrida sech anjingnya seperti anjing terawat, tapi kalo dipikir2, jauh banget posisi anjing tadi dengan pemukiman penduduk. Setelah kejadian tadi, kami langsung hati2 dalam melanjutkan perjalanan. Namun tak jarang pula ada ranjau yang dibuat oleh manusia. Uh dasar manusia2 tidak bertanggung jawab! Masak buang hajat di tengah jalan, tidak dikubur lagi, cpdh!!!
Kami pun hampir sampai, dan saat itu temen kami Rulianto yang menuju puncak sendirian telah kembali. Kami pun melanjutkan perjalanan bersama2. Akhirnya sampai juga di hutan Pinus. Kami sampai di hutan Pinus sekitar pukul 18.00 WIB. Akhirnya kami pun segera mendirikan tenda. Selama temen2 sibuk mendirikan tenda, Elfrida mbak Enik dan Mas Agus sibuk masak buat makan malam. Namun kali ini, mas Agus tidak campur tangan labih jauh, karena kali ini khusus cewek yang masak, kecuali masak nasi, hehehe. Maklum lah Elfrida gak bisa masak nasi.
Akhirnya jadilah santapan makan malam dengan menu, oseng2 kentang ma telor dadar ma kentang goreng.
Karena kami sangat capek sekali, akhirnya kami tidur. Namun sebelum tidur kami sempet buat api unggun dari sampah2 yang ada.

Tulisan Sebelumnya »